Hejocokor

Expedisi Baduy Dalam : Nilai Sebuah Perjalanan Hidup

sumber photo : Internet

Senyum itu masih mengembang dalam ingatan, kalian ... Sanif, dede, asmin dan pulung,  jauh dari peradaban teknologi dunia modern tapi kebaikan hidup kalian telah mengajarkan banyak hal.

 
**
Jalanan terjal dan licin, tidak menghentikan semangat saya untuk berkunjung ke kampung Cikeusik, satu diantara 3 kampung di 'Baduy Dalam' ( Cibeo dan Cikartawana).
 
Keringat, terpeleset, terengah-engah... Menjadi bagian dari canda perjalanan kami. Bahagia rasanya dapat menikmati langsung pemandangan yang begitu memesona.. Hamparan pesawahan, ladang, rimbunnya hutan dan segarnya udara memberikan energi yang begitu kuat untuk kami terus dan terus berjalan.
 
Kekuatan dalam memegang teguh adat, telah menjadikan 'Baduy Dalam' sebagai kampung adat yang memiliki "Nilai". Banyak hal unik yang kami jumpai disana.. Selain merasakan kesederhanaan dalam berkehidupan, tidak ada listrik, dan alat2 elektronik, menjadikan 'Baduy Dalam' sebagai tempat yang tenang bagi kami yang jenuh dengan kerasnya ibukota.
Sejenak... Damai terasa hidup ini.
 
Lihatlah cara mereka berpakaian. Semua sama, hanya menggunakan pakaian warna hitam/putih dengan kain samping hitam tenunan khas Baduy yang melilit menutupi bagian pinggang ke lutut. Tanpa menggunakan alas kaki. Bentuk rumah yang sama, sehingga tidak menonjolkan kelas sosial. Semua sama. Yang membedakan kedudukannya di masyarakat. Apakah sebagai puun yaitu orang dapat memberikan syafaat bagi warga baduy, atau sebagai jaro (red:lurah).
 
Pagi itu, saya dibangunkan kokok ayam jago, sudah jam 5 ternyata. Sayapun bergegas bangun karena malamnya cukup dingin,,,lupa tidak membawa selimut dan kaos kaki.. Tidurpun beralaskan tikar di rumahnya pa inas warga 'Baduy Dalam', yang terbuat dari bambu dan bilik, beberapa bagian terbuka, disanalah angin-angin itu masuk.namun beruntung dikamar saya terdapat "hawu" atau perapian utk memasak. Sehingga kayu bakarnya cukup menghangatkan.
 
Ada sesuatu yang memaksa saya untuk pergi ke toilet, disini tidak ada pemandian umum apalagi kamar mandi maka sayapun bergegas keluar menuju sungai. Senter sangat membantu memberikan penerangan. Berjalan di tanah licin, menuruni sungai yang jernih dan dingin, adalah pengalaman yang luar biasa. 
 
**
"Ayo kita sarapan dulu" pemandu kami, menjelaskan setelah sarapan akan treking ke kampung Cibeo. Jarak dari kampung Cikeusik tempat kami menginap sekitar 8Km, ditempuh sekitar 2-3jam berjalan kaki.
 
 
 
Perjalanan menuju cibeo, lebih terjal, dengan kemiringan hampir 40-70 derajat, sayapun terpaksa berjalan sambil duduk menggunakan telapak tangan sebagai penahan. Dan dibeberapa tanjakan bukit, saya, bu lies dan ayah berpegangan tangan untuk saling menahan beban. 
 
Ditengah perjalanan, Pa Sardi, penduduk asli Baduy Dalam memotong salah satu batang pohon, dan meminta kami untuk duduk sambil menengadahkan muka, sempat berpikir, mau diapakan saya ini.
Air yang terdapat di batang pohon tersebut ternyata dipercaya dapat membersihkan mata.
 
Decak kagum, tiada henti kami lontarkan...sepanjang perjalanan,
Alam ini, udara ini, pohon-pohon ini, kicau burung, suara arus sungai, menjadi harmoni kehidupan alam yang begitu sempurna.
 
"Aaahhhhhhhhh" dipuncak salah satu bukit, kami serentak berteriak, seakan melepas semua penat... Lega rasanya..
Pemandangan ini telah mengobati lelahnya perjalanan.
 
Senyuman dan keunikan tata kehidupan kampung cibeo, menyambut kedatangan kami.
 
Kami menikmati makan siang dengan ikan asin dan sambal, berpiringkan daun pisang dan bergelaskan bambu. Sederhana tapi nikmat tiada tara. Pengalaman inilah yang saya cari.
 
Di cibeo, satu-satunya kampung yang terdapat satu pemandian.. Berdindingkan bilik disebelah kiri, tanpa penutup bagian atas, disamping kanan dan depan tertutup tanah dan tanaman, sedangkan bagian depan terbuka, sehingga apabila kita sedang mandi, sudah pasti terlihat jelas apabila ada yang lewat. Tapi inilah keunikan 'Baduy Dalam'...
 
Malam ini, terasa panjang...tidak hanya bagi saya tapi juga bagi sanif dan asmin. Ditengah remang-remang cahaya cempor, dikamar kami berbincang tentang kehidupan kami masing-masing.
Penafsiran awal saya mengenai masyarakat baduy yang nampak "seram" lenyap seketika.
Keramahan dan kepolosan terpancar dari bagaimana mereka bercerita.
 
Tuhan.... Mereka begitu bahagia hidup dalam kesederhanaan, menjalani kehidupan bersahabat dengan alam.
 
**
Pa Sadim dan Pa Sardi, bercerita banyak tentang kehidupan ‘Baduy Dalam’, kami sangat terkagum dengan apa yang kami dengar.
Sanip dan asmin pun sempat bercerita tentang perjalanan mereka ke jakarta dengan berjalan kaki, ya berjalanan kaki 2 hari 2 malam, tanpa alas kaki.
 
Keunikan-keunikan yang kami dengar dan kami lihat sendiri, meyakinkan saya bahwa mereka istimewa.
 
Inilah beberapa keunikan masyarakat kampung ‘Baduy Dalam’
 
1. Pernikahan
 
Menginjak usia 19 tahun bagi kaum pria harus segera menikah. Dan 16 tahun bagi perempuan.
Sistem perjodohan oleh kedua orang tua.
Ada tiga tahapan dalam proses pernikahan, yaitu :
*Lamaran - dari pihak laki-laki ke pihak perempuan
*Nunggang ( berkebun selama 3hari di ladang calon mertua perempuan) dan
*5 bulan kemudian menikah dengan  adat 'Baduy Dalam', penghulu seorang Puun, prosesi saling suap nasi yg sudah diberikan mantra oleh Puun.
 
2. Pakaian
 
Ini yang paling unik yang terlihat saat kita bertemu dengan orang Baduy Dalam.
*mereka tidak boleh menggunakan alas kaki,
*hanya menggunakan baju putih/hitam khas baduy,
*menggunakan kain hitam yang dililit sebagai celana, mereka tidak mengenal celana dalam.
*ikat kepala kain putih
*Tas dari kain putih
 
3. Tidak ada orang gemuk.
 
Di baduy ini semua masyarakatnya aktif berjalan kaki (tidak boleh menggunakan kendaraan), ke ladang, ke kampung sebelah bahkan ke jakartapun jalan kaki. Didukung dengan pola makan yang sehat, dan udara yang bersih, semua bentuk badannya sudah dipastikan mengalahkan model model L-man. Jangan terkejut ya!
 
4. Tidak ada listrik dan teknologi modern
 
Sesuai hukum adat yang berlaku, mereka hanya menggunakan cempor sebagai penerangan di malam hari. Anak anak kecil berjalan di malam hari tanpa penerangan dan senter dan mereka bisa!
 
5.  Bentuk bangunan
 
Semua bentuk rumah sama konsep panggung dengan bahan bambu dan bilik, terdiri dari 4 ruangan ada yg disekat ada yg dibiarkan terbuka, dan tidak menggunakan paku. Ini bukan magic karena mereka menggunakan sistem pancang dan tali.
 
6.  Peralatan
 
Sebagian besar peralatan yg digunakan terbuat dari bambu. Contoh
*untuk mengambil air dari sungai menggunakan bambu yg dipotong per "buku" dan diberi dua lubang utk keluar masuk air.
*makan menggunakan daun pisang, dan ingat harus 2 alas daun pisang, karena apabila hanya satu lembar dianggap sedang berduka. Utk minum pun menggunakan bambu yang dibentuk menyerupai gelas.
 
7. Mandi
 
Sungai sebagai pusat aktivitas kebersihan. Mulai dari mencuci, mandi dan kakus. Ingat, tidak diperbolehkan menggunakan sabun, detergen, pasta gigi dan bahan bahan lainnya yang dapat mencemari lingkungan. Cukup gunakan kapas kelapa atau daun honje sebagai sabun.
 
8. Foto
 
Tidak Boleh mengambil foto/video di dalam Kampung 'Baduy Dalam'.
 
9. Hutan
 
Pohon yang ditebang maksimal 3 pohon, itupun harus seijin puun dengan alasan untuk membangun rumah/lumbung. Diluar itu tidak boleh!
Serta tidak boleh menanam kopi dan cengkeh. Hal ini karena apabila di tanam pohon tersebut, akan menyebabkan orang berburu kopi/cengkeh, membuka lahan dll, alasan yang rasional.
 
fakta-fakta inilah yang menjadikan 'Baduy Dalam' berbeda dengan kampung tradisional lainnya.
 
**
Hari ketiga
 
Tik tok tik tok ... 8:30 pagi, Saat ini waktu begitu cepat berjalan.. Enggan rasanya packin'.
Kami berjalan menuju kampung Cihonje, tempat mobil kami diparkir.... Diantar oleh masyarakt Baduy, kembali menembus terjalnya bukit diiringi hujan.
 
Inilah Saatnya... Saya harus pamit kepada mereka yang selama ini telah memberikan pelajaran di universitas kehidupan. .
 
ketulusan dan kebersamaan antara kami dengan warga 'Baduy Dalam' ini, yang menjadikan setiap detik perjalanan begitu indah.
 
Kesederhanaan kalian, telah membuka mata hati saya untuk bersyukur dan menikmati anugrah alam ini.
 
terimakasih Pa Sardi, Pa Sadim,Pa Ralim, Pa Inas, Dede, Asmin, Sanip, Pulung, dan semua masyarakat 'Baduy Dalam' atas sambutan hangatnya. Suatu hari nanti saya akan kembali ....